Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Dimana sektor pertanian menjadi penyangga ekonomi yang kuat. Termasuk bagi pesantren. Selain dapat meningkatkan pendapatan pesantren, pertanian juga merupakan mayoritas profesi santri dan wali santri yang perlu terus dikembangkan agar menjadi ketahanan ekonomi keluarga.
“Kami juga memberikan edukasi kepada para santri dan masyarakat, bahwa dasar utama pesantren itu rata-rata adalah petani. Tetapi karena banyak santri yang tidak paham sistem pertanian yang baik, potensi itu sulit untuk dikembangkan,” jelasnya.
Dosen Fakuktas Pertanian Universitas Brawijaya, Syamsul Hadi mengatakan, pihaknya dan Pesantren Raudlatul Muta’allimien mempelajari perbedaan dari karakteristik 4 varietas bawang merah yang ditanam.
Untuk pertanian bawang merah, akan dilakukan kajian tentang kesuburan tanah dan sistem tanam. Dari 4 petak lahan yang dijadikan penelitian dan pengembangan itu, memiliki sistem berbeda-beda.
“Fokus kami salah satunya mengembalikan kesuburan tanah, dengan banyak menambahkan pupuk kompos untuk menekan ketergantungan terhadap pestisida. Jadi pestisida ini dipakai jika benar-benar dibutuhkan saja,” jelasnya.
Selain itu, penggunaan trap atau jaring pengaman dan perangkap serangga juga akan menggunakan sistem berbeda, yakni sistem jaring kurung dan sistem trap lampu.
