Bondowoso, Memox.co.id – Jubir Satgas CoVid 19, dr. H. Mohammad Imron, MM.Kes dan group Medsos Stop Covid 19 merilis, sesuai peta epidemiologi, Kabupaten Bondowoso termasuk berisiko tinggi. Dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, hanya ada 5 Kabupaten yang masuk kategori sedang. Yaitu Kabupaten Tuban, Sumenep, Pamekasan, Ngawi, dan Kota Mojokerto. Sedangkan 30 lainnya masuk kategori Risiko Tinggi.
Skor Bondowoso 1,59 dengan status terdampak. Sementara Kabupaten tetangga, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi, skornya masing-masing, 1,61-1,52, dan 1,8. Ketiga Kabupaten juga termasuk beresiko tinggi. Kasus Konfirmasi Covid 19 hingga 27 Juli 2021 jam 17.00, secara akumulasi di Bondowoso berjumlah 510 kasus. Case fatality ratenya 10,26% dan jumlah kasus aktif 711 orang.
Terkait dengan Covid 19, warga Bondowoso tidak sepenuhnya memahami kondisi sulit ini. Mulai dari pengambilan paksa jenazah terkorfirmasi virus Corona hingga penolakan daerahnya dijadikan tempat isolasi.
Misalnya yang terjadi Wringin. Muspika berencana menjadikan SMPN 1 Wringin di Desa Jatitamban, sebagai tempat isolasi pasien COVID-19 yang tersentral. Namun warga menolak sekolah dijadikan tempat isolasi pasien Covid 19.
Sebab warga khawatir, tempat itu akan menjadi pusat penyabaran dan penularan virus Corona. “Iya, mas. Warga desa ini menolak jika sekolah itu jadi tempat isolasi,” ungkap Kepala Desa Jatitamban, Joko Purnomo, saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (27/72021).
Penolakan itu bermula saat Muspika Wringin menggelar rapat koordinasi dengan stakeholder terkait. Pihak sekolah, komite, Satgas, Polisi dan TNI. Mereka berembug tentang penentuan tempat isolasi di wilayah itu.
“Perwakilan warga sekitar juga diundang dalam pertemuan tersebut. Namun mereka menolak keras jika tempat itu dijadikan tempat isolasi. Khawatir warga sekitar juga terpapar,” imbuh Joko. (sam/mzm)
