Atasi Kekeringan, Pemkab Bojonegoro Berencana Pasang 55 Instalasi Pemanen Air Hujan

Atasi Kekeringan, Pemkab Bojonegoro Berencana Pasang 55 Instalasi Pemanen Air Hujan
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah (Wahono-Nurul melakukan kunjungan ke Kabupaten Gunungkidul pada 17 Januari 2025, (foto:ist)

MEMOX.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berencana memasang 55 instalasi pemanen air hujan (IPAH) di sejumlah lokasi sebagai upaya untuk mengatasi kekeringan. Langkah strategis ini ditempuh sebagai tindak lanjut dari kunjungan Bupati Setyo Wahono dan Wabup Nurul Azizah ke Kabupaten Gunung Kidul beberapa waktu lalu.

“Kita telah mengunjungi Kabupaten Gunungkidul untuk mempelajari strategi pengelolaan air. Ke depannya, kita akan berupaya merevitalisasi beberapa sumber air permukaan di Bojonegoro untuk irigasi dan penyediaan air bersih secara lebih efektif,” ungkap Bupati Wahono.

Diketahui, pada tahun 2025, diproyeksikan sebanyak 106 desa di Kabupaten Bojonegoro masih akan terdampak kekeringan, dengan 93 di antaranya mengalami kekeringan ekstrem. Hal ini membuat warga sangat bergantung pada bantuan pengiriman air oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sebagai bagian dari upaya mencari solusi, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah (Wahono-Nurul) melakukan kunjungan ke Kabupaten Gunungkidul pada 17 Januari 2025, sebelum pelantikan mereka. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mempelajari praktik dan strategi pengelolaan air yang telah diterapkan di daerah tersebut.

Bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB) Kabupaten Gunungkidul, Bupati Wahono dan Wakil Bupati Azizah bertemu dengan kepala dan perangkat Desa Wisata Nglanggeran, serta pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola air bersih lokal.

Kabupaten Gunungkidul sendiri telah berhasil menjaga ketahanan air dengan memanfaatkan berbagai sumber air, seperti air tanah, air permukaan, dan air hujan. Hampir seluruh sumber daya air ini dikelola untuk kebutuhan domestik dan air minum oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gunungkidul, kelompok masyarakat, perorangan, dan BUMDes.

Selain itu, air yang tersedia juga digunakan untuk irigasi, intensifikasi lahan pertanian, inovasi pertanian hortikultura, serta pengembangan pakan ternak.

Setelah kunjungan di Desa Nglanggeran, Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro merasa terinspirasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan berbagai sumber air alternatif yang ada di Bojonegoro, seperti melalui revitalisasi waduk, sendang, dan embung, serta teknik panen air hujan, pengaliran, dan penyulingan air. Mereka juga akan melakukan pemetaan sumber-sumber air baru yang potensial.

Kunjungan tersebut dilanjutkan dengan studi di Banyumanik Research Center (BRC), tempat yang fokus pada teknologi pengelolaan air hujan, kolam lele di buis beton, dan berbagai inovasi lainnya.

“Kita banyak belajar inovasi baru di Banyumanik Research Center. Secara bertahap, kita akan mengadopsi teknologi mereka di beberapa titik dengan menyesuaikan dukungan infrastruktur yang ada,” tambah Bupati Wahono.

Sebagai tindak lanjut dari kunjungan ini, Bojonegoro telah membangun 55 Instalasi Pemanen Air Hujan (IPAH) di beberapa titik percontohan. Rencana kedepannya adalah untuk menambah jumlah IPAH di lokasi-lokasi lainnya.

Diharapkan, IPAH ini bisa menampung air hujan saat musim penghujan untuk memenuhi kebutuhan air di daerah yang terdampak kekeringan saat musim kemarau. Selain itu, Pemkab Bojonegoro juga akan segera mengimplementasikan penyulingan air minum di beberapa sendang percontohan.

Dengan rangkaian kunjungan dan kebijakan yang konkret ini, diharapkan upaya-upaya yang telah diterapkan dapat berlanjut demi memastikan ketersediaan air yang lebih baik di Bojonegoro. Rencana tindak lanjut yang dihasilkan dari observasi di Kabupaten Gunungkidul ini akan menjadi prioritas utama Bupati dan Wakil Bupati dalam mewujudkan visi Bojonegoro yang makmur dan membanggakan. (*/sgg)