MEMOX.CO.ID – Pada 2022 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis survei angkatan kerja nasional (sakernas) 2022 dan membuat Kota Batu menempati peringkat pertama tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk kategori kota dan berada di urutan kedua untuk kategori kabupaten/kota Provinsi Jatim. Tercatat, angka pengangguran di Kota Batu mencapai 10.175 orang atau 8,43 persen dan mengalami peningkatan dibandingkan 2020 yang tercatat 7.079 orang dan di 2021 sebanyak 8.101 orang.
Sekretaris Disnaker Kota Batu Adiek Imam Santoso mengungkapkan, banyak sektor usaha yang tak memanggil kembali para pekerjanya yang dirumahkan. “Sekalipun perekonomian berangsur-angsur membaik. Sehingga keadaan itu semakin menumpuk trend angka pengangguran di Kota Batu. Lapangan kerja yang ada di sini tak menyerap angkatan kerja dari Kota Batu. Warga Kota Batu berusia produktif tersisih karena pemberi kerja banyak merekrut pekerja dari luar Kota Batu,” katanya pada Senin (25/9/2023).
Menjulangnya tingkat pengangguran juga berasal dari lulusan program bursa kerja khusus (BKK) yang berada di bawah naungan 12 SMK di Kota Batu. BKK memiliki peran mendidik dan melatih para peserta didik agar memiliki keterampilan sehingga mereka nantinya bisa diserap sebagai tenaga kerja. Alih-alih mencetak tenaga terampil, justru lulusan SMK menjadi penyumbang pengangguran di Kota Batu.
Baca juga: Banjir Diskon Oktober HUT Batu, Pengusaha Tunggu SE Walikota
Dedek menuturkan beberapa waktu lalu Disnaker Kota Batu menggelar rakor bersama pengajar-pengajar SMK lantaran tingginya pengangguran yang berasal dari tamatan SMK. Terlebih program BKK memiliki peran untuk mencetak lulusannya agar bisa bersaing di pasar kerja. “Ini yang jadi pertanyaan, BKK sudah melakukan fungsinya dengan baik apa tidak. Kalau hasil lulusannya tidak bisa bersaing di pasar kerja, maka perlu ditinjau standar pelatihannya, kurikulumnya. Jangan sampai program BKK ini cuma jadi ladang mencari keuntungan dari uang wali murid,” ungkap pria yang akrab disapa Dedek tersebut.
