MEMOX.CO.ID – Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) berpartisipasi aktif dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Jumat (28/8/2026).
Kontribusi nyata profesor dan akademisi perempuan NU sangat dibutuhkan dalam merespons berbagai dinamika masalah di masyarakat.
Pesan kunci ini menjadi salah satu agenda utama keterlibatan APMNU pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Ketua Umum Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., menjelaskan tantangan era modern yang makin kompleks menuntut solusi berbasis riset dan keilmuan.
Ia juga kerap menjawab kebutuhan tersebut, APMNU menyediakan forum akademik keagamaan sebagai ruang titik temu antara sains, pengalaman lapangan, nilai keislaman, dan solusi konkret bagi masyarakat.
“APMNU untuk Muslimat NU yang berilmu, berdaya, dan terus memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban,” menjadi semangat yang ditekankan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) membawa peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan serta pola asuh generasi muda.
Merespons isu tersebut, Seminar Nasional APMNU mengusung tema Positive Parenting dan pemanfaatan AI secara bijak guna mendorong pendampingan keluarga dan sekolah agar anak muda mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Tidak hanya menggelar seminar, Asosiasi Profesor dan Akademisi Muslimat NU (APMNU) juga mengadakan Majelis Bahtsul Masail. Forum ini berfokus mendiskusikan dua isu krusial masyarakat yaitu pola asuh ideal untuk generasi cerdas digital dan langkah strategis menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan seksual.
Melalui proses tashawwur al-mas’alah dan istinbath hukum Islam, hasil pembahasan tersebut dirumuskan menjadi rekomendasi resmi yang disampaikan oleh Ketua APMNU.
Keterlibatan akademisi perempuan NU di forum ini memperkuat tradisi keilmuan NU sekaligus memperluas kontribusi mereka dari ranah sosial hingga pengembangan teknologi dan pemikiran Islam.
Menurut Amany, perempuan NU perlu dibekali kapasitas keilmuan yang kuat agar mampu merespons berbagai perubahan di masyarakat secara aktif.
APMNU memadukan tradisi pesantren, akademisi, dan pengalaman Muslimat NU guna menjawab era digital pada Muktamar ke-35 NU di Jombang (27–31 Agustus 2026) bertema Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menyatakan bahwa pihak LLDIKTI terus mendorong pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Kekerasan di kampus, terutama pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Jawa Timur.
Dyah menegaskan pentingnya kampus mencegah budaya kekerasan demi melindungi generasi muda serta menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi warga perguruan tinggi.
“Ini jangan sampai kekerasan menjadi budaya yang tidak baik untuk putra-putri kita, keluarga kita, perguruan tinggi atau pendidikan yang ada di Jawa Timur dan seluruh Indonesia,” ucapnya.
Oleh karena itu, pencegahan kekerasan menuntut kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kampus, pemerintah, keluarga, hingga masyarakat.
Penguatan peran Satgas menjadi strategi kunci untuk mengantisipasi potensi kekerasan secara dini sekaligus mewujudkan ekosistem pendidikan yang aman, sehat, dan berkeadaban,”ungkapnya.(kel/fik)






