Probolinggo,Memo X
Walikota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin melakukan panen perdana padi hibrida bersama sejumlah pejabat,diantaranya Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo,Roy Amran,Jajaran Forkopimda,OPD dilingkungan Pemkot serta Pimpinan Bank Jatim di area ladang yang ada di Jalan Jambu, Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo.Senin (1/4/2019).
Pemerintah harus mengambil langkah untuk memberi pemahaman kepada petani agar lahan tidak produktif lebih berguna. Bersama masyarakat, pemerintah dapat memanfaatkan dan mengikuti aturan-aturan yang telah dibuat,”tegas Habib Hadi.
Peran serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga adanya pemanfaatan lahan yang tidur. Pemkot pun berencana melakukan kunjungan ke LIPI untuk mendapatkan bibit yang unggul dalam rangka meningkatkan hasil panen yang optimal.
Soal bibit padi hibrida, menurut Habib Hadi, sesuai dengan cuaca, ketahanan, kekuatan dan iklim, jenis hibrida yang bisa dikembangkan di Kota Probolinggo.
Biasanya petani hanya asal menanam dan tidak melihat jenis bibit dan PH tanah. Jika dua hal ini tidak diperhatikan maka hasil pertanian jelas akan berkurang,”terang Walikota saat melakukan dialog dengan beberapa Poktan yang juga hadir pada saat itu.
“Petani masih memakai metode lama, asal tanam. Harusnya PH tanah diukur dulu. Semua gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kota Probolinggo sudah punya alat ukur untuk kesehatan tanah. Bisa pinjem ke Gapoktan masing masing,”terangnya.
Meskipun stok hasil pertanian di Kota Probolinggo relatif aman, Walikota Habib Hadi tidak mau terlena dan terus menyemangati para petani untuk bisa meningkatkan daya saing dengan daerah lain. “Petani di kota harus bisa (meningkatkan hasil pertanian dan daya saing) meski dengan lahan yang sempit,” jelasnya.
Tantangan petani sangat banyak selain masalah bibit, biaya dan pemasaran. Tantangan itulah yang harus dicari solusinya sehingga tidak ada lagi petani yang dimanfaatkan oleh tengkulak. Pemerintah terus berupaya memperhatikan apa yang jadi kendala supaya ada solusi untuk petani,”imbuhnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sukarning Yuliastuti mengatakan, padi hibrida memang punya kelebihan pada hasil panen. Satu hektar ladang bisa panen hingga 10-14 ton, padahal jenis padi biasa maksimal hanya 8 ton sekali panen.
“Cuma memang bibit (hibrida) lebih mahal. 1 ton itu harga bibitnya sekitar Rp 1 jutaan. Saat ini kami masih ujicoba di pekarangan (ladang) di Sumber Wetan ini dan menghasilkan panen 10,5 ton.
Maunya semua petani memakai hibrida, karena harus ada perlakukan khusus. Kadang petani hanya memakai pupuk urea saja, kalau hibrida memang harus seimbang antara pupuk urea dan pupuk NPK,” jelas Sukarning di sela sela usai gebyar panen.(geo).






