Jombang Memox.co.id – Musim tanam tembakau berbeda dengan nusim tanam pertanian lainnya. Justru musim kemarau datang menjadi pilihan yang tepat untuk memulai musim tanam, sementara musim pertanian lainnya dipilih pada saat musim penghujan. Hal itu terlihat di Jombang yang memulai musim tanam tembakau, seperti apakah? …
Pada musim tanam tembakau tahun ini terbilang istimewa karena dilakukan oleh kepala daerah dan forum pimpinan daerah (Forpimda) Kabupaten Jombang. Penanaman tembakau itu dilakukan di area persawahan tembakau Desa Sidokaton Kecamaran Kudu Kabupaten Jombang.
Bupati Jombang Hj.Mundjidah Wahab dalam sambutannya menyampaikan adanya acara ‘Turun Tanam Tembakau Bersama’ menjadi lebih tahu kondisi yang sebenarnya di masyarakat yang lebih membutuhkan air, dengan demikian masyarakat di Sidokaton mupun di utara berantas masih perlu dukungan untuk masalah pengairan dan harus ada bantuan berupa sumur untuk pengairan.
“Nanti kita akan berupaya meningkatkan bantuan di tahun mendatang, kita juga akan berupaya untuk mendapatkan bantuan dari Provinsi Jawa Timur. Untuk mendukung keberhasilan semua ini maka perlu adanya gotong royong. Apa yang di butuhkan masyarakat selama ini adalah sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” tuturnya didampingi Wakil Bupati Jombang Sumrambah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang Hadi Purwantoro menyampaikan tanam perdana tembakau kali ini merupakan yang ke 3 setelah sektor perkebunan digabung dalam dinas pertanian. Pada tahun 2017 dilakukan di desa Bendungan Kecamatan Kudu kemudian tahun 2018 dilaksanakan di Desa Tondowulan Kecamatan Plandaan dan saat ini dilaksanakan di dusun Mabul, Desa Sidokaton Kecamatan Kudu.
“Meskipun tembakau bukan komoditas mayoritas petani Jombang, namun keberadaannya tidak bisa pandang remeh, ada sebanyak 176 kelompok tani dengan jumlah petani mencapai 11.533 orang yang menanam tembakau, karena itu kegiatan seperti ini perlu dilakukan sebagai media komunikasi antara kelompok tani dengan pembuat kebijakan dan stakeholder lainnya, seperti perusahaan rokok, penelitian dan bank, serta lainnya,” ujarnya.
Menurut Hadi, pada tahun 2018 luas tanaman tembakau di kabupaten Jombang mencapai 5.292 hektar tersebar di 6 kecamatan, diantaranya Kabuh 2.785 hektar, Ploso 1.092 hektar, Kudu 735 hektar, Ngusikan 94 hektar, Plandaan 574 hektar dan Bareng 12 hektar. Dari luas tanam tersebut, pada tahun 2018 Jombang mampu memproduksi tembakau basah mencapau 59.090 ton. pada tahun 2019 ini diharapkan luas tanah tembakau di Kabupaten
Jombang dapat dipertahahankan sebagaimana luas tanam tahun 2018 yaitu sekitar 5.922 hektar.
“Seminggu yang lalu laporan masuk ke dinas pertanian tanam tembakau sudah mencapai 5.225 hektar, sedangkan sampai sekarang sudah hampir tutup tanam dan masih ada petani yang menanam tembakau. Dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas tanaman tembakau tahun ini pemerintah kabupaten Jombang memberikan bantuan berupa pupuk NPK Basal sebanyak 110,3 ton dan pupuk KNO3 sebanyak 11 ton . selain itu, diberikan NPK Fertila mencapai 30 ton, bantuan ini jauh lebih besar dari bantuan pada tahun 2018 sejumalah 22,5 ton,” harapnya.
Menurut Hadi, berdasarkan pengujian tanaman pemanis dan serat (BALITAS) Jawa timur di Malang, pupuk NPK dan KNO3 khusus tembakau ini memiliki kadar clor yang rendah sehingga bisa menghasilan daun tembakau yang lebih baik. Selain bantuan pupuk untuk medukung keberhasilan petani juga memberikan mesin pertanian, antara lain: hands player elektic 70 unit, hand traktor 3 unit, mulitfator/ traktor mini sebanyak 17 unit, pompa air beserta selang air16 unit, mesin alat rajang tembakau 20 unit, pisau rajang tembakau 40 unit , terpal 70 lembar dan timbangan duduk 25 unit. Bantuan tersebut bersumber dari 3 anggaran, yaitu: APBD Kabupaten Jombang, DBHCHT dan APBD Provinsi Jawa Timur.
Pada kesempatan itu, Kepala Desa Sidokaton, Supandi mengajak petani untuk tanam tembakau sehingga ketika panen bisa mahal. Sementara itu lahan tanam tembakau di desa Sidokaton sangat sulit dengan aliran air. Supandi juga menghadirkan alat salah satu petani. “Saat pengairan tanaman di desa kekurangan air. kulo nyuwun sumur kagem toyo kagem ngaliri tanduran dateng sawah. (Saya minta sumur agar bisa buat mengairi tanaman di sawah),” ujarnya
Sekarang ini masalah yang kita hadapi baik di desa sidokaton maupun di Desa lainya yaitu masalah kekurangan air, maka dari itu kami juga berharap agar ada bantuan sumur bor dalam dan perlu peningkatan penambahan pupuk. (wis/jun)






