Hukum  

Ramadhan: Saatnya Saling Memaafkan

 

Penulis: Noor Shodiq Askandar *)

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan segera tiba, menemui kita semua yang sangat merindukannya. Bulan pujaan semua ummat Islam, yang kehadirannya akan disambut dengan penuh kecintaan. Bak menyambut pujaan hati, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari membersihkan diri, menyiapkan wewangian, pakaian, dan berbagai persiapan lainnya.
Membersihkan diri dapat dilakukan dengan memohon maaf baik lewat pintu taubat kepada Allah swt dan kepada sesama manusia.
Memohon maaf kepada Allah swt atas segala kesalahan yang telah lalu dan janji berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan di masa yang akan datang. Apalagi membuat kesalahan baru, harus diupayakan untuk dihindari dari perilaku ummat manusia. Memang manusia itu tempatnya salah dan lupa. Akan tetapi ini bukan / tidak dapat dijadikan pembenaran bagi dibolehkannya ummat manusia untuk melakukan kesalahan. Hanya keledai bodoh yang terjatuh dalam lubang sama lebih dari satu kali, begitulah kalimat dari orang bijak.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya, adalah memohon maaf kepada sesama manusia. Ini haqqul adam yang harus disampaikan dan kemudian saling rela hati dengan penuh keihlasan untuk memaafkan kesalahan diantara kedua belah fihak. Ini sepertinya gampang diucapkan, akan tetapi terkadang sulit untuk dilakukan. Kenapa demikian ? Sifat iri dan dengki, hasut, dan lain sebagainya yang biasanya banyak menghiasi kehidupan ummat manusia. Jika dua penyakit tersebut dapat diminimalisir, proses saling memaafkan akan menjadi lebih mudah dilakukan.
Cerita indah tentang pentingnya saling memaafkan tergambar dari kisah Rasulullah saw berkhutbah di bulan sya’ban. Rasulullah saw tiba tiba mengucap “Aamiin” sampai dengan tiga kali. Para sahabat yang mendengar, kemudian turut membaca “aamiin “, meskipun agak bingung.
Usai sholat jum’at, para sahabat kemudian bertanya: apa yang terjadi padamu ya Rasulullah saw, yang kemudian dijawab langsung bahwa tadi itu mengamini doa malaikat Jibril yang datang.
Doa malaikat Jibril tersebut : Ya Allah swt, abaikan puasa ummat Muhammad jika sebelum datang ramadhan tidak memohon maaf dan saling memaafkan : memohon maaf kepada kedua orang tua, jika masih ada. Memohon maaf dan saling memaafkan antara suami istri dan memohon maaf kepada orang orang di sekitarnya. Maka Rasulullah saw mengucap “aamiin” tiga kali. Hadits sokhih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Ahmad, dari sahabat Abu Hurairah).
Sungguh hadits ini harus menjadi pengingat kita ummat Rasulullah saw, agar tidak meninggalkan hal tersebut. Memang ini terkadang berat, tetapi inilah langkah terbaik jika kita ingin menyambut puasa dengan lebih baik. Marhaban ya ramadhan (*)