MemoX.co.id
Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah dengan hasil produksi pertanian terbesar di Jawa Timur. Bahkan, Kabupaten Malang berada di sepuluh besar dengan hasil pertaniannya untuk skala Jawa Timur. Untuk itu berbagai langkah terus dilakukan untuk dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan capaian tersebut.
Terbaru, Kabupaten Malang telah mendapat bantuan dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Keenkominfo) berupa alat sensor tanam. Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Budiar Anwar, alat sensor tanam tersebut berfungsi agar proses tanam pada sebuah jenis tanaman bisa lebih efisien.
“Dalam artian, dengan alat sensor tanam ini, semua unsur dalam tanah yang diperhatikan saat akan mulai menanam itu bisa terdeteksi. Jadi ph tanah, kelembaban tanah, bahkan curah hujan juga ada. Lalu juga bisa memberikan rekomendasi berapa banyak pupuk yang harus digunakan sesuai dengan kondisi tanah masing-masing,” jelas Budiar saat dikonfirmasi.

Adapun menurut Budiar, alat sensor tanam ini masih bersifat bantuan. Jadi masih akan dilakukan pengakajian lebih lanjut dan masih belum dianggarkan oleh Pemerintah Daerah. Hal itu dikarenakan harga per unit alat sensor tanam tersebut masih terbilang mahal, yakni Rp 35 juta per unit nya.
“Namun jika para petani di Kabupaten Malang berkeinginan untuk bisa menggunakan alat tersebut, itu tidak masalah. Per unit nya sekitar Rp 35 juta, dan bisa dicicil. Dan untuk bantuan yang pertama kemarin sudah diturunkan untuk digunakan di wilayah Ngantang,” imbuh Budiar. Lebih lanjut Budiar menjelaskan, alat tersebut dapat diakses melalui gadget dengan sistem operasi berbasis android.
Selain alat sensor tanam, Budiar menjelaskan, pihak Kemenkominfo juga telah mengenalkan aplikasi berbasis android bernama ‘SayurBox’. SayurBox adalah sebuah aplikasi yang memudahkan para petani untuk memasarkan hasil pertaniannya. Dimana menurutnya, salah satu kendala yang dihadapi oleh petani di Kabupaten Malang adalah pada masa pasca panen.
“Jadi salah satu masalah yang dihadapi oleh petani kita di Kabupaten Malang adalah saat penjualan pasca panen. Terkadang petani kita bingung kalau mau menjual itu harganya yang rendah,” terang Budiar.
Dengan menggunakan aplikasi tersebut, Budiar berharap taraf ekonomi bisa lebih terangkat. Karena menurutnya, petani bisa langsung berhubungan dengan konsumen dalam memasarkan hasil produksi pertaniannya.
“Jadi semacam online shop, tapi ini untuk hasil pertanian, terutama sayur. Sekarang kan banyak konsumen inginnya itu sayur yang fresh langsung dari petani. Jadi sebelum para petani terdaftar dalam aplikasi tersebut sebagai penjual, pihak pemilik aplikasi melakukan survey terlebih dahulu. Untuk memastikan hasil produksi tani yang akan dijual sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk selanjutnya, proses pengiriman dan segalanya dilakukan oleh pemilik aplikasi. Kita hanya menyediakan apa yang akan dijual saja,” pungkasnya. (kik/man)






